Apakah RUU KKG mengganggu pelaksanaan syari'at

Deklarasi The Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Againts Women


A. Pendahuluan

Deklarasi The Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Againts Women (CEDAW) menjadi spirit kaum perempuan di dunia untuk menggulirkan gerakan Pengarusutamaan Gender (PUG). 

Strategi ini dilakukan secara rasional dan sistemetis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun pemerintah.

Di Indonesia, pemerintah sudah lama mendorong PUG di beberapa bidang, bahkan akan membuat payung hukum dengan menyusun RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG). 

Ironisnya, banyak pasal yang rancu dan bertentangan dengan fitrah manusia. Di balik RUU KKG ini juga terdapat misi liberalisme yang berbahaya.

Oleh karena itulah makalah ini dibuat agar dapat membendung arus kebudayaan barat yang sebenarnya tidaklah cocok jika diterapkan di Negara Indonesia.

B. Pencerahan Dari Beberapa Polemik Kesetaraan Gender 

Sebenarnya kalau kita dalami latar belakangnya, pemerintah punya kepentingan besar untuk RUU KKG segera disahkan. Pasalnya, pemerintah sendiri sudah mengadopsi bebrapa konvensi internasional terkai kesetaraan gender ini. 


Misalnya, The Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Againts Women (CEDAW) pemerintah indonesia mengadopsi dan menindaklanjutinya dengan membuat peraturan Pengarusutamaan Gender (PUG). 

Banyak UU yang sudah disemangati kesetaraan gender, seperti UU Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan atau UU Perlindungan Anak. 

Karena pemerintah sudah meratifikasi beberapa konvensi internasional terkait HAM atau kesetaraan gender, maka beberapa lembaga-lembaga seperti Komnas Perempuan konsekuensi logis dari konvensi dam membuat payung hukum dalam Undang-undang. 

Tidak bisa dipungkiri kalau pemerintah kita hari ini sangat lemah terhadap desakan-desakan internasional, baik melalui lembaga-lembaga internasional maupun perpanjangan tangan lembaga-lembaga internasional, tanpa memandang apakah keberadaan mereka memberikan manfaaat atau tidak. 

Dalam hal ini pemerintah tidak bersikap tegas. Setiap ada konvensi internasional terkait masalah sipil, penegakan HAM, dan kesetaraan gender, pemerintah kita dalam posisi seolah-olah kalau tidak meratifikasi akan sianggap sebagai negara yang tidak berperilaku positif dalam pergaulan internasional, inilah yang sangat kita sayangkan. 

Sikap Ormas Islam menolak tidak hanya penyusunan UU ini, tapi secara keseluruhan. RUU KKG ini lebih menjunjung tinggi ide kesetaraan gender, kebebasan, dan HAM barat daripada aturan manapun, termasuk aturan islam. 

RUU ini akan berproses seperti RUU PKDRT, yang disahkan diam-diam menjelang berakhirnya periode legislasi, sebelum terpilih anggota legislatif dan pemerintahan baru. meski banyak penolakan dari umat, ternyata pengusul RUU PKDRT lebih diakomodir dibanding kepentingan umat islam. 

Jika pemerintah abai terhadap reaksi penolakan masyarakat, kita bisa simpulkan bahwa penguasa di Indonesia bukanlah representasi masyarakat. Mereka lebih tuduk pada tekanan-tekanan pihak tertentu, lebih ingin mendapat pujian dari internasional dibanding memenuhi kemaslahatan masyarakat dan melindungi dari murka Allah ‘Azza Wa Jalla. 

Jika benar RUU ini disahkan menjadi UU Gender, maka umat islam harus menunjukan sikap secara tegas. Jangan sampai ada anggapan bahwa umat islam Indonesia sepenuhnya menerima ide kesetaraan gender. 

Di banyak negara yang sudah mengesahkan Gender Equality Bill (UU Gender), tidak ada lagi hambatan bagi ide-ide liberal dan mempengaruhi seluruh sendi kehidupan.

Yang menjadikan PR yaitu meyamakan persepsi tentang hakkikat keadilan dan kesetaraan gender dengan cara harus terus menerus menyampaikan baik kepada lembaga-lembaga struktural. Misalnya, ke Kementrian Pemberdayaan Perempuan, adapun respon dari Kementrian tersebut bahwa tidak ingin KKG versi barat yang liberal. Pihaknya tidak ada masalah dengan KKG yang disesuaikan dengan nilai-nilai ketimuran, apalagi Indonesia yamg mayoritas muslim. 

Hal yang sama juga menjadi pemikiran banyak Ormas-ormas muslimah, seolah-olah KKG itu hanya istilah yang bermakna positif ketika dimuati ide-ide positif dan bermakna negatif jika dimuati ide-ide Barat. Karena itu, penolakan RUU KKG menjadi krusial. Memang draf yang di DPR sudah ada beberapa penyesuaian, namun itu tidak cukup. 

Munculnya paham KKG di negara-negara Muslim hanya dalam rangka untuk memenuhi target yang dikehendaki oleh negara-negara Barat agar kaum Muslim menjadi masyarakat yang sekuler. Memang, kita tidak bisa memungkiri masih banyak persoalan perempuan dalam konteks kezaliman. 

Kesejahteraan yang semestinya dinikmati oleh perempuan memang belum sepenuhnya diterima. Dan masih banyak kekerasan yang terjadi terhadap perempuan, baik di ranah publik, ekonomi, dan lainnya. 

semestinya perempuan mendapatkan perlakuan yang terjaga dan terhormat. ketika perempuan mengambil haknya bekerja ternyata perempuan mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. Misalnya, perempuan menjadi terhinakan bahkan menjadi komoditas ekonomi seperti menjadi TKW. 

Perempuan juga menjadi korban kekerasan seksual uang angkanya semakin hari semakin tinggi, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Kita harus kritisi tidak cukup hanya mengadopsi mentah-mentah pisau analisis yang selama ini selalu digunakan para pegiat gender. 

Secara formal tidak ada, karena pemerintah justru membuat peraturan untuk pengarusutamaan gender sehingga semua lini kebijakan pemerintah bisa digugat ketika menunjukan diskriminasi. 

Tapi justru dalam kondisi dan akibat pengarusutamaan gender di semua lini kebijakan ini, ada banyak sekali yang menyalahi fitrah. Misalnya, harus 50 peren dalam rekrutmen pegawai negeri. Dalam kajian mendalam di beberapa departemen, salah satunya di Departemen Kehutanan. 

Ketika harus diproporsionalkan 50:50, yang ada bukan orang yang tepat dalam posisinya, tetapi sekadar memenuhi kuota perempuan. Jika perempuan dipaksakan melakukan tugas-tugas sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki, tentu banyak sekali resiko yang ditanggung. 

Di sisi lain, ada ketimpangan kebijakan justru sebagai hasil keinginan menhilangkan diskriminasi dan ketimpangan tadi. Misalnya, tidak boleh membedakan peran laki-laki dan perempuan. Justru sekarang muncul sebuah tren yang membahayakan keluarga. Jadi, bangsa ini tidak btuh UU Gender, tapi butuh UU Keluarga yang mampu melahirkan generasi yang diridhoi oleh Allah ‘Azza Wa Jalla.

Akibat PUG yang begitu masif melalui struktural dan kultural, muncullah ayah rumah tangga. Karena dalam PUG tidak ada pembakuan peran dalam rumah tangga. Tidak hanya itu, PUG ini justru mengingkari fitrah yang diberikan Alah ‘Azza Wa Jalla kepada laki-laki dan perempuan. Setiap yang ditetapkan Allah itu selalu membawa mashlahat, dan menentang yang ditetapkan Allah selalu membawa mudharat. 

Kalau tidak ada kesetaraan gender dianggap sebagai pangkal persoalan berarti negara yang menerapkan kesetaraan gender seharusnya tidsk muncul persoalan. 

Di negara Skandinavia atau Eropa Barat, yang dikatakan sebagai role model pelaksanan gender, diskriminasi bukan semakin hilang malah semakin bertambah semakin banyak. 

Di Inggris misalnya, hampir sepuluh menit terjadi perkosaan dan pelecehan seksual. Bahkan dalam hitungan statistiknya terjadi setiap detik. Di Indonesia sendiri sekitar 56 persen lebih gugat cerai dilakukan perempuan. Kondisi ini berbeda sama sekali dengan negara-negara yang belum mengkampanyekan kesetaraan gender. 

Kasus yang paling mengejutkan, PM Australia Julia Ghilaf mengalami pelecehan seksual sebelum turun dari jabatannya di gedungnya sendiri tahun 2013 lalu. Artinya, pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan bkan akibat dari tidak adanya kesetaraan gender. 

RUU ini tidak lahir dari kebutuhan maupun aspirasi masyarakat luas. RUU ini hanya mengakomodir kepentingan pengusungan paham liberal. RUU ini akan mengganggu bahkan menghalangi pelaksanaan syari’at terutama dalam kehidupan berkeluarga. Ini yang tampak di permukaan. 

Dasarnya sendiri sudah jelas bertenangan dengan islam, karena tidak menempatkan agama sebagai landasan utama. 

Optimisme harus tetap ada. Yang terpenting, umat islam harus paham betul bahwa dasar, konten, sampai aplikasi UU ini akan membahayakan umat islam karena banyak sekali pertentangannya dengan syari’at dan merusak keluarga. 

Ketika diterapkan secara umum, yang merugi bukan hanya keluarga, melainkan bangsa dan negara. Namun harus kita waspadai bahwa apabila RUU ini disahkan atau tidak, ini merupakan problematika politik yang sangat pelik.

C. Keutamaan Perempuan Yang Sebenarnya Jika Dilihat Dari Konteks nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits.
  • Kajian dari nash Al-Qur’an. 
Al-Qur’an mengulas secara khusus persoalan perempuan dalam pelbagai aspeknya lebih banyak dari persoalan laki-laki. Bahkan, ada satu surat khusus yang diberi nama surat An-Nisa’ yang artinya kaum wanita, yang didominasi oleh pembahasan tentang kaum wanita dan hukum-hukum yang terkait dengannya.

Banyak pula ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang diturunkan untuk meluruskan pandangan dan perilaku masyarakat jahiliyah yang cenderung merendahkan perempuan dalan berbagai bentuk. Diantaranya adalah surat An-Nahl ayat 58-59:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ. يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

Ibnu Katsir menggambarkan penghinaan terhadap perempuan dimasa jahiliyah. Anak perempuan dikubur hidup-hidup karena kelahirannya tidak disukai. Jika ada anak yang selamat dari upaya menguburnya hidup-hidup, maka ia akan tumbuh dalam keadaan terhina dan didzalimi. Ia tidak diberikan hak waris meski sangat membutuhkan, atau menjadi barang warisan bagi anak laki-laki suaminya, apabila suaminya meninggal dunia.

Karenanya, Al-Qur’an banyak membicarakan fenomena tersebut sebagai perhatian yang begitu besar terhadap perempuan. Dengan begitu perempuan memiliki kedudukan yang layak dan terhormat.

Al-Quran menggunakan beberapa istilah yang beragam dalam menyebut perempuan sesuai dengan fungsi dan kedudukannya. Al-Untsa untuk menunjukkan perempuan berdsarkan jenis kelamin yang dibedakan dengan Adz-Dzakar (laki-laki). An-Nisa’ yang menunjukkan perempuan secara umum atau yang memiliki hubungan kekerabatan atau ikatan pernikahan. Imra’ah yang lebih khusus menunjukkan seorang istri bagi seorang suami. Berikutnya Al-Umm yang lebih khusus lagi menunjukkan seorang perempuan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Dalam konteks perempuan sebagai istri, Allah penghargaan dengan gelar wanita shalihah. Gelar ini diberikan manakala seorang istri yang taat dan patuh kapada suami, mampu menjaga diri, harta, dan keluarganya, sebagaimana dalam firman Allah:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ.

...Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”

Keutamaan terbesar yang diberikan kepada kaum perempuan adalah dalam posisi mereka sebagai ibu. Hampir setiap ayat yang berbicara tentang perintah berbakti kepada kedua orangtua, selalu disebutkan setelahnya gambaran susah payah seorang ibu ketika mengandung, melahirkan, dan menyusui, seperti dalam firman Allah SWT:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri".




  • Kajian dari nash Al-Hadits.



وَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ مَيْسَرَةَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْر

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Za`idah dari Maisarah dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, kemudian dia menyaksikan suatu peristiwa, hendaklah dia berbicara dengan baik atau diam, dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya dia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah tulang rusuk yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya, niscaya akan patah, jika kamu membiarkannya, dia akan senantiasa bengkok, maka berwasiatlah terhadap wanita dengan kebaikan." (HR Muslim)

Allah ‘Azza Wa Jalla menciptakan manusia hanya dengan dua jenis kelamin; laki-laki dan perempuan. Berarti perempuan merupaka bagian penting dari masyarakat. Maka, tidak salah jika dikatakan, Al-mar’atu Nishful Mujtama’, perempuan adlah separuh masyarakat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menegaskan dalam sabdanya:



إِنَّ النِّسَاءَ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

“Sesungguhnya kaum perempuan adalah saudara kandung kaum laki-laki.” (HR Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani dalam “Shahihul Jami’ Ash Shaghir Wa Ziyaadatihi” I/399, no. 1983. Lihat pula di “Shahih Abi Dawud no 234).

Namun, realitasnya tidak semua bangsa menganggap penting keberadaan perempuan di tengah-tengah mereka. Tidak semua masyarakat memiliki persepsi yang benar tentang eksistensi perempuan. Hal ini mengakibatkan munculnya perlakuan diskriminatif terhadap kaum hawa.

Di bangsa Romawi, perempuan hanya dianggap sebagai alat setan untuk menggoda manusia. Undang-undang Romawi tidak tidak memberikan sebagian besar hak manusia kepada perempuan. Kaum lelaki memiliki kekuasaan mutlak terhadap perempuan dan boleh menjualnya sebagai budak (Al-Musaawaatu Fil Islam, Dr Ali Abdul Wahid Wafi, hal 49).

Dikalangan bangsa persia, kehidupan perempuan seratus persen tergantung kepada kaum adam. Adalah hak suami untuk melarang istrinya keluar rumah selama-lamanyaa atau membunuhnya (Lihat: Al-Mar’atu Mas’uuliyyah wa Mawaaqif, Hasan Musa Ash-Shafar, hal 11).

Sedangkan bangsa Yunani memandang perempuan sebagai penyebab lahirnya perbuatan setan. Ia tidak boleh melakukan transaksi apa pun dan tidak boleh memiliki suatu benda apa pun, bahkan tidak boleh mendapatkan warisan sedikit pun. Jika ditinggal mati suaminya, maka boleh diwariskan kepada saudaranya atau kerabatnya (Markazul Mar’ah Fil Islam, Ahmad Khairat, hal 11).

Di India, perempuan dianggap seperti benda yang tidak boleh hidup sepeninggal suaminya, maka ia harus dibakar hidup-hidup (Makaanatul Mar’ah Fil Islam, Muhammad Athiyyah Al-Ibrasy, hal 9).

Maka dari itu kita sebagai umat islam yang peduli atas keadilan yang hakiki tidak sepantasnya untuk mengadopsi budaya-budaya seperti yaang telah disebutkan diatas yang sebenarnya tidak layak untuk diterapkan di negara Indonesia yang mana masyarakatnya adalah mayoritas muslim. Adapun jika kita menengok beberapa hadits Nabi SAW. terdapat beberapa sabda yang perlu kita cermati, diantaranya:

Pertama, Perempuan adalah manusia yang paling berhak diperlakukan secara baik.



حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَه

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari 'Umarah bin Al Qa'qa' bin Syubrumah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zur'ah hadits seperti di atas." (HR Bukhari, dan Muslim)

Diulang-ulangnya “ibu” sampai tiga kali, sementara bapak hanya sekali, dalam jawaban Nabi SAW. tersebut, memberikan pemahaman kepada kita, betapa mulianya kedudukan perempuan yang dalam hal ini diwakili oleh ibu. Hadits ini menguatkan haadits di atas yang memerintahkan semua umat manusia untuk memperlakukan perempuan dengan baik.

Kedua, Bersikap seimbang terhadap kaum perempuan.



قَالَ رِسُولُ اللهِ: لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهِ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ، أَوْ قَالَ غَيْرَهُ

“Rasulullah SAW. bersabda, “Janganlah seseorang mukmin laki-laki itu membenci seseorang perempuan. Sebab, jika ia membenci dari perempuan itu tentang suatu budi pekertinya, tentunya ia aakan menyenangi budi pekertinya yang lain”. Atau beliau bersabda, “Selain (yang dibencinya) itu” (HR Muslim, no. 1469)”.

Hadits ini menganjurkan kita bersikap adil, obyektif dan seimbang terhadap kaum perempuan. Apabila seorang perempuan melakukan suatu kesalahan, hendaknya kita kkaum lelaki tidak fokud kepada kesalahanya itu, melainkan juga melihat beberapa kebaikan yang telah dilakukannya, dengan demikian keharmonisan rumah tangga dan kemaslahatan bersama terjaga dengan baik.

Ketiga, manusia terbaik di dunia adalah yang paling baik terhadap kaum perempuan.



حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا، قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

"Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami 'Abdah bin Sulaiman dari Muhammad bin 'Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya." Abu Isa berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Aisyah dan Ibnu Abbas." Dia menambahkan; "Hadits Abu Hurairah merupakan hadits hasan sahih." (HR Tirmidzi, dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih).

Hadits ini menolak anggapan dan penilaian mayoritas manusia yang cenderung menilai kebaikan orang dengan variabel-variabel duniawi; harta, jabatan, penampilan, dan yang semisalnya. Ternyata manusia unggul dan terbaik dalam perspektif hadits Nabi SAW. tersebut adalah yang paling baik sifat perlakuannya terhadap kaum perempuan.

Keempat, Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.



حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ أَخْبَرَنِي شُرَحْبِيلُ بْنُ شَرِيكٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة.

“Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Numair Al Hamdani telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengabarkan kepadaku Syurahbil bin Syarik bahwa dia pernah mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuli telah bercerita dari Abdullah bin 'Amru bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah."
(HR Muslim)


Kemuliaan perempuan dan penghargaan terhadapnya di zaman Nabi SAW. juga ditunjukkan pemberian peranan yang luas kepada kaum perempuan untuk beraktivitas dengan tetap berpegang terhadap norma-norma syar’i. Mereka terlibat aktif dalam jihad dengan harta dan jiwanya, seperti dengan ikut mengangkat senjata sebagaimana dilakoni oleh Nusaibah binti Ka’ab RA, mengobati tentara-tentara muslim yang terluka seperti yang dilakukan oleh Rufaidah binti Sa’ad Al-Aslamiyah RA dan menyiapkan logistik.

Sebagaimana mereka pun ikut aktif hadir dalam majlis-majlis Nabi SAW. sehingga tidak sedikit dari mereka yang menjadi guru dan dosen bagi kaum lelaki serta rujukan umat karena pengetahuannya yang luas, seperti Aisyah RA da Ummu Salamah RA. Mereka dibai’at oleh Nabi SAW. sebagaimana kaum laki-laki.

Banyak dari perempuan yang berperan besar dalam meriwayatkan hadits, menyebar luaskan dan serta mengawal hadits Nabi SAW. dengan menjadi perawi hadits.
Penutup.

Sebagai uaraian penutup penulis ingin mengingatkan sekali lagi bahwa betapa besarnya peranan perempuan di segala bidang yang tidak kalah dengan status laki-laki yang juga bergerak dalam aspek segala bidang.

Dari pemaparan di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa bodohnya kita yang secara sengaja mengadopsi kebudayaan orang-orang Barat yang notabene mereka berada dalam garis kebebasan, baik dari segi agama, politik, hukum, dan lain sebagainya yang dapat merusak moral bangsa.

Semoga kaum perempuan di negeri ini betapa mulia dan strategisnya posisinya dalam perspektif  nabi Muhammad SAW. sehingga mereka bisa menampilkan dirinya bak Perguruan Tinggi sebagaimana digambarkan oleh penyair arab, “Seorang Ibu adalah madrasah (universitas), apabila engkau mampu menyiapkannya dengan baik, berarti engkau telah menyiapkan bangsa yang unggul...”

Makalah ini disadur dari berbagai sumber, Wallahu a’lam bishowab.

Subscribe to receive free email updates:

Database Alamat Grosir, Distributor Dan Produsen Terlengkap di Indonesia

Daftar isi Ebook database suplier dan produsen rujukan para pebisnis: Kumpulan Alamat Asosiasi Budidaya lkan Tawar dan Perikanan. Kump...

Artikel (35) DOWNLOAD (11) Linux (2) Novel Santri (18) SOFTWARE (9) Tahfidz (15)